Hari ini aku diminta oleh ortu tercinta mengantarkan mereka ke cirebon. Tanah kelahiran orang tuaku dan nenek moyangku tentunya. karena ada teman SMA papah (SMA 1 Palimanan) yang aktif mengorganisir angkatan untuk reuni menikahkan anaknya.
Sudah lama sekali aku tidak menyempatkan diri melayani orang tuaku, mengantarkan mereka ke tempat yang mereka inginkan. mungkin akhir-akhir ini ku hanya menyibukkan diri dengan kesibukanku dan kesenanganku saja
so i was enjoying the journey very much, aku sampai di sana sekitar waktu dzuhur. terlebih dahulu mamah menelpon kakek (the last grandparent of me) untuk ajak makan siang “empal gentong” di daerah jamblang.
terlihat kegembiraan di wajah mamah melihat ayahanda tercintanya. aku sungguh menikmati pemandangan ini. sangat indah, pernah kah kalian membayangkan diri kalian 25 tahun ke depan?saat orang tua kita yang saat ini mungkin kita sanggah kata-katanya dan mungkin ketika itu mendengar kata katanya pun sangat jarang.
Kami makan siang di empal gentong sekitar 250 m dari jembatan jamblang di lajur arah ke palimanan. lezat.. hal yang lucu adalah sate kambingnya! tidak memabukkan sama sekali. aneh bin ajaib. dan kata mamah papah sate kambing di sini cepat habis dan gak bikin pusing kalo makan terlampau banyak (bagi orang kebanyakan, bagiku belom tentu)
kakekku membawa 4 cucu nya, 1 menantu dan istrinya (my step grandma). mobilku yang besar itu akhirnyta dipenuhi oleh penumpang juga, biasanya hanya membawaku ketika cuaca buruk di kampus. walaupun sesak dan penuh terasa gambaran akan kegembiraan dalam kebersamaan
entah mengapa ketika aku menginjakkan kaki ku di cirebon aku selalu membayangkan diriku 25 tahun mendatang. aku sangat berharap kebersamaan ini akan selalu ada hingga kedua mataku menutup selamanya.
setelah makan siang dan mengantarkan kakekku kembali perjalan dilanjutkan ke rumah tante dari papah. di daerah sitiwinangun. untuk bersilahturahmi, kebetulan tempat beliau berdekatan dengan tempat undangan jadilah aku bisa beristirahat sejenak di sana.
rupanya ada kabar berduka yang papah dan keluargaku tidak ketahui paman papah telah meninggal setahun yang lalu, sekitar seminggu setelah menikahkan anaknya (ketika itu papah datang). weww sungguh hari ini aku selalu merenungkan kata “maut” dimana pintu kita kembali ke sisi sang pencipta.
aku teringat akan segala dosaku yang mungkin tak terhitung lagi. singkat cerita ketika perjalanan pulang pun papah membahas mengenai kematian dan masa depanku, di mana aku harus selalu siap menghadapi apa pun yang terjadi. bahkan papah memintaku untuk bersiap dan tidak boleh menangisi kepergian papah nantinya. air mata ini ingin menetes sekali mendengar kata2 beliau. rasanya aku sedikit sekali berbhakti ke orang tuaku, sudah 20 tahun aku hidup di dunia ini. tapi mungkin hanya sedikit waktu yang kucurahkan untuk berbhakti kepada orang tuaku
teman teman bijaklah dalam menjalani hidup ini, “waktu yang bengis terus pergi”. kamu tidak akan pernah bisa mencoret atau menghapus pena hidup kamu gunakan walau hanya sedetik pun.